Sejarah Singkat

Sejarah Singkat (1900an – 1960an)

Seiring berakhirnya Perang Diponegoro (1825-1830), para prajurit dan pengikut setia Pangeran Diponegoro tersebar ke berbagai pelosok di Pulau Jawa bahkan sampai ke pulau-pulau lain di nusantara. Prajurit dan pengikut setia tersebut sebagian berasal dari daerah Bagelen (Purworejo, Jawa Tengah).

Diantara para pengikut setia tersebut adalah lima bersaudara Abdul Jari, Nurqoiman, Nuriman, Isma’un dan Ya’qub. Guna menghindari penangkapan dari Belanda, mereka pergi ke arah timur. Mereka mendirikan sebuah masjid di Dolopo, Madiun. Isma’un tetap tinggal di Dolopo untuk merawat masjid yang telah dibangun. Abdul Jari melanjutkan pindah ke arah Timur, tepatnya di Desa Njari, Blitar. Sedangkan Nur Qoiman, Nuriman dan Ya’qub kemudian mendirikan masjid dan menetap di Desa Gondang, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek.

Dalam perkembangannya, pengelolaan Masjid di Desa Gondang dilanjutkan oleh Kiai Murdiyah (KH Muhammad Asrori) salah satu putra dari Nur Qoiman. Kiai Murdiyah pernah belajar di Pesantren KH Muhammad Kholil, Bangkalan, Madura.

Dibawah asuhan Kiai Murdiyah, masjid berkembang menjadi sebuah pesantren. Pada periode ini, sistem pendidikan yang diterapkan bercorak tradisional dengan menitik beratkan pada pengajaran membaca Al Qur’an, pengajian kitab kuning dengan sistem sorogan (santri membaca kitab di depan Kiai) dan pengamalan Thariqat Naqsyabandiyah Mujaddadiyah Khalidiyah.

Sepeninggal KH Muhammad Asrori, pengelolaan pesantren diteruskan oleh putranya yaitu KH Abdul Madjid. Periode KH Abdul Madjid ini hampir bersamaan dengan masa-masa penjajahan Jepang dan perang kemerdekaan. Kegiatan pesantren lebih banyak pada pengajaran Al-Qur’an dan Thariqat Naqsyabandiyah Mujaddadiyah Khalidiyah. Para santri saat itu terbatas masyarakat setempat dan desa-desa sekitar. Keadaan ini berlangsung sampai awal tahun 1960-an.

Foto: Masjid PP Qomarul Hidayah

Periode Pengembangan (1960an – sekarang)

Pada awal tahun 1960an, salah satu putra KH Abdul Madjid yaitu Kiai Qomaruddin mulai merintis kembali sistem belajar mengajar. Kiai Qomarudddin sebelumnya menimba ilmu di Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Mojo, Kediri dibawah asuhan KH Djazuli Usman.

Pada mulanya beliau melakukan pembenahan dengan mendirikan Madrasah Diniyah. Pengajian berbagai kitab ulama salaf (kitab kuning) standar pesantren-pesantren tradisional kembali dilaksanakan.

Guna melengkapi sarana dan prasarana, mulai dibangun gedung madrasah di depan masjid (saat ini: gedung bertingkat tiga). Selanjutnya, untuk memenuhi kebutuhan pendidikan formal maka pada tanggal 1 Januari 1964, didirikan pula Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau setingkat Sekolah Dasar (SD) dengan kurikulum Kementerian Agama.

Sepeninggal Kiai Qomaruddin yang wafat pada tahun 1966, pengelolaan pesantren dilanjutkan oleh adik beliau, KH Kholil Madjid.

Di bawah asuhan KH Kholil Madjid, unit-unit pendidikan dan lembaga di lingkungan Pesantren Qomarul Hidayah berkembang dengan pesat.

Lembaga atau unit-unit pendidikan tersebuta antara lain terdiri dari

  • Pengamalan Thariqat Naqsyabandiyah Mujaddadiyah Khalidiyah;
  • Madrasah Tarbiyatul Mu’allimin wal Mu’allimat (MTM/madrasah diniyah);
  • Raudlatul Athfal (RA) atau Taman Kanak-kanak / Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD);
  • Madrasah Ibtidaiyah (MI) setingkat Sekolah Dasar;
  • Madrasah Tsanawiyah (MTs) setingkat Sekolah Menengah Pertama;
  • Madrasah Aliyah (MA) setingkat Sekolah Menengah Atas;
  • Sekolah Menengah Kejuruan 1 (SMK 1);
  • Sekolah Menengah Kejuruan 2 (SMK 2);
  • Panti Asuhan (Darul Aytam);
  • Tahfidzil Qur’an khusus putri dan Taman Pendidikan Al-Qur’an;
  • Radio Komunitas.

Keseluruhan siswa yang belajar di unit-unit pendidikan tersebut sekitar 1.000 siswa. Sekitar 250 orang diantaranya tinggal di asrama pesantren. Sedangkan sisanya berasal dari desa-desa di sekitar Pesantren dan tinggal bersama keluarga masing-masing

(Visited 400 times, 1 visits today)